Selasa, 11 Januari 2011

UNTUK KEDUA KALINYA

Untuk Kedua Kalinya
Sungai itu diam, namun airnya mengalir deras menemu hilir, membawa  sisa-sisa kehidupan yang mereka buang sembarang ke sana. Begitu pula dengan aku. Hatiku diam, namun pikiranku berlari kesana-kemari, mencari tempat untuk berteduh.
“terancam..!”
Hujan selalu deras di rumahku. Pepohonan sebagai akar penguat kehidupan seakan tak mampu menahan amukan.
“ibuuuu, ibuuuu..”, suara itu memecah heningnya malam.
Rani pergi meninggalkan kedua buah hatinya. Hasil perkawinan dengan seorang pemuda tampan yang sangat dia cintai. Roby, lelaki tampan yang di pacarinya sejak duduk di bangku SMA kini menjadi suaminya, pesona ketampanannya membuat wanita manapun tertarik padanya. Mereka telah hidup berdampingan ketika mereka sama-sama lulus kuliah. Roby yang mempunyai sifat penyayang ternyata kini berprilaku sebaliknya. Merasa kesal dengan tuduhan Rani, lantas dia sanggup mengakhiri hidup istrinya yang selama ini menjadi ibu dari anak-anaknya.
Sejak itu usiaku baru empatbelas tahun, aku sudah mengerti tentang kematian. Aku duduk termangu melihat jasad ibuku tertutup kain coklat penuh motif. Aku tahu ibuku tak akan bisa menyanyikan lagi lagu untukku, menceritakan dongeng-dongeng yang aku minta sebelum aku dan adikku tidur. Sementara ayah, ayahku berada di balik jeruji besi yang memaksa menahannya selama 5 tahun penjara.
Prili, adik manis yang sejak itu baru berusia tiga tahun, sangat tidak mungkin tahu keadaan sebenarnya. Dia hanya tahu ibunya  tidur dan akan terbangun seperti biasa di pagi hari lalu bermain bersamanya sepanjang hari.
Pertengkaran sengit macam perang dunia muncul ketika ibu kerap menemukan keganjilan dari sikap ayah yang berbeda dari biasanya. Akhir-akhir ini ayah pergi ke kantor selalu lebih awal, tetapi tidak untuk pulang. Belakangan ini gelagat ayah menampakkan perubahan yang cukup drastis. Mengenakan parfum dengan berganti-ganti setiap harinya, membeli kemeja dan dasi hampir tiga kali dalam waktu seminggu. Nampak jelas sekali perubahannya. Perubahan yang ibu rasakan mulanya tak terlalu ibu tanggapi, tetapi lama kelamaan ibu pun penasaran dengan apa yang telah terjadi sehingga membuat suaminya begitu berubah.
Ibu tertidur pulas di sofa ruang keluarga. Rupanya ibu menunggu ayah yang berjanji akan pulang tepat saat makan malam. Tapi ayah tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Aku, Ibu dan adikku terpaksa makan malam bertiga. Aku melihat raut wajah ibu begitu cemas. Ibu sangat menginginkan ayah bisa makan malam bersama kami di rumah. Tadi siang ibu sengaja memasak makanan favoritnya. Sayang, wajah ceria siang itu tak aku temukan di meja makan malam ini. Aku melihat langsung perbedaannya. Siang tadi ibu terlihat gembira sekali, selera memasaknya meningkat, karena ibu tahu ayah akan pulang lebih awal dan makan malam bersama kami. Tapi kenyataannya, ayah pulang larut malam. Bahkan dia tak menghiraukan janjinya untuk makan malam bersama di rumah.
“Bu, Ibuu.. Buka pintunya!”
Suara itu agak keras terdengar di telingaku. Aku kira itu suara ayah.
“Bu, Ibuuuu.. Ayo buka pintunya!”
Suara itu semakin keras terdengar.
Sementara ibu masih belum mendengar. Aku lihat ibu sejak itu masih tertidur pulas. Waktu itu menunjukkan pukul dua malam. Aku sendiri belum tidur karena aku khawatir melihat ibu, sementara Prili sudah sedari tadi tidur, setelah makan malam lalu ibu ceritakan dongeng-dongeng kesukaannya hingga Prili akhirnya tertidur.
“Ibuuuuuuuuuu..”
Suara ayah lebih keras lagi.
Ibu terperanjat dari sofa merah itu. Sambil tergesa-gesa ibu mendekati pintu ruang tamu dan kemudian membukanya.
“Lama sekali kamu buka pintunya?”, gerutu ayah kesal.
“Maaf Mas, aku tertidur”, jawab ibu lemas. Ibu masih merasa matanya belum sepenuhnya terbuka. Rasa kantuk masih terasa berat.
“Ayah dari mana? Pulang larut malam begini?”, ibu mencoba bertanya.
“Rapat”, jawab ayah singkat.
“Rapat apa? Gak biasanya pulang rapat sampai selarut ini?”, Tanya ibu penasaran.
“Sudahlah kamu tak perlu tahu. Ini urursan pekerjaanku. Jangan coba-coba kamu masuk dan berusaha ingin tahu tentang pekerjaanku”, ancam ayah keras.
“Aku tahu yang sebenarnya kamu lakukan Mas”, jelas ibu.
“Tahu apa kamu tentang aku?”
“Aku tahu semuanya Mas. Aku sudah duga ini akan terjadi.”
“Kalau ngomong itu yang benar, jangan ngelantur.”
“Ini lebih dari benar Mas. Aku sudah duga kamu main api di belakangku.”
“Main api gimana maksudmu?”, Tanya ayah kesal.
“Gelagatmu yang berubah drastis apa tak membuatku curiga? Memangnya aku ini istri yang bodoh? Bisa kau tipu begitu saja!!”, nada suara ibu sedikit meninggi.
“Aku masih punya mata dan telinga yang normal. Bukan hanya itu, batinku tak bisa dibohongi Mas. Aku tahu kamu punya simpanan kan? Gadis cantik, anak kuliahan semester akhir.”
“Lancang sekali kamu ini. Menuduh tanpa bukti. Itu fitnah!!”, bantah ayah.
“Alaaaah, kamu ini pintar berkelit Mas!! Jelas sekali aku lihat kamu menggandeng gadis muda itu di salah satu restoran. Malam itu kamu bilang ada rapat. Rupa-rupanya rapat di meja makan bersama gadis itu. Iya kan Mas? Untung saja aku tak pernah lihat “rapat” itu di sebuah kamar hotel. Apa pula jadinya jika  “rapat” itu benar terjadi di kamar hotel??? Rasanya tidak etis ketika kepala kantor menanyakan hasil rapatnya lalu yang ada, hasilnya gadis berbadan dua.”
Aku terus mengintip dari pintu kamar. Kamarku letaknya tak jauh dari kamar orang tua ku. Sedikit ngeri aku melihat kejadian itu. Cek-cok mulut antara ayah dan ibu memang belum pernah aku melihatnya selama ini. Tapi kali ini aku melihat langsung pertengkaran itu. Betapa sengit pertengkaran itu terjadi. Tuduhan demi tuduhan ibu lontarkan. Begitupun bantahan ayah tak mau kalah. Ayah seperti orang yang tak merasa bersalah.  Sementara ibu percaya dengan apa yang pernah ibu saksikan sendiri kemesraan ayah dengan gadis itu.
Sesekali aku lihat ke arah Prili. Terlihat Prili tidur nyenyak. Tak nampak kegelisahan di raut wajahnya yang cantik. Prili mewarisi rupa yang sangat cantik dari ibunya. Ibu ku cantik, mirip boneka Barbie. Rambutnya lurus sepinggang, badannya terawat, tinggi langsing, dan memiliki kulit kuning langsat.
“Tetapi jika benar ayah berpaling pada wanita lain, lalu apa yang membuat ayah berpaling dan meninggalkan ibu?”, tanyaku dalam hati.

“Lantas kalau benar  itu terjadi, kamu mau apa?”, tanya ayah dengan nada keras.
“Aku memang pergi bersamanya malam itu.”
Ibu sedikit melongo, tak percaya dengan apa yang ayah bilang barusan. Ohh, jadi benar ayah berpaling. Hati ibu remuk berkeping-keping. Tak tahan dengan itu, air mata ibu pun menetes. Kantung matanya sudah tak mampu menahan perih. Ibu kebingungan, duduk dan terdiam.
“Ayo jawab! Jangan bisanya nangis dan nangis!!” Bentakan ayah semakin membuat hatinya hancur.
“Kamu itu sudah gak bisa memberi aku keturunan lagi. Jangankan memberi keturunan, bahkan membahagiakan suami secara batin saja kamu sudah gak mampu.”
Perkataan ayah semakin tak enak di dengar. Nadanya tinggi dan kasar. Aku ingin sekali merangkul ibu saat itu. Tapi apa dayaku, aku anak kecil yang tak tahu apa-apa masalah orang tua.  Pikiranku polos dan sama sekali tidak mengerti permasalahannya. Yang aku tahu ibu menangis dan terlihat seperti orang yang kesakitan.
Tangisan ibu pun semakin keras terdengar. Untung saja Prili tidur pulas. Sehingga dia tak mendengar suara gaduh ibu dan ayahnya. Aku takut Prili bangun dan menangis. Biasanya dia kalau sudah bangun susah untuk tidur kembali.
Aku yang dulu masih tak mengerti apa-apa tentang masalah perkawinan karena terlalu lugu. Aku hanya bisa diam dan kebingungan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Mencari pertolongan kepada siapa harus minta tolong. Hampir semua keluargaku  berada di luar kota, termasuk nenek dan kakekku. Mereka tinggal di Jakarta, sedangkan kami tinggal di Solo mengikuti ayah yang kebetulan di tugaskan di Kota Solo.
Ayah yang ketika itu menyebutkan bahwa ibu sudah tak mungkin memberinya keturunan lagi membuat pikiranku berputar, memikirkan perkataan ayah. Ingin sekali aku ketahui apa masalahnya hingga ibu sudah tak akan bisa memberinya keturunan lagi.
“Tega kamu Mas! Bisa-bisannya kamu mencari keuntungan di saat aku justru butuh dukunganmu. Kamu sudah ingkari perjanjian kita di depan penghulu dan kedua keluarga besar. Ini tidak adil!!”
“Lalu apa yang harus aku harapkan lagi dari istri macam kamu? Penyakitan!!”
“ Dengan memilih kemudian menikahiku, berarti kamu sudah bersedia menerimaku apa adannya. Baik dalam keadaan susah mmaupun senang. Apa buktinya sekarang? Kamu mencari gadis lain demi memenuhi hasratmu. Tuhan, sungguh keenakan jika lelaki seperti dia hidup berlama-lama di dunia.”
Mendengar perkataan ibu, ayah akhirnya naik vitam. Sesegera mungkin ayah seret keluar ibu dari dalam kamar dengan menggunakan dasinya. Dasi itu menyekik leher ibu keras sekali. Aku yang sedari tadi ada di balik pintu kamar tidurku melihat persis kejadiannya.
“Mas.. Tolong lepas Mas!”, pinta ibu dengan suara samar terdengar.
Namun ayah tak menghiraukannya. Dia terus menyeretnya hingga memasuki kamar mandi. Di tendangnya keras pintu kamar mandi hingga mengagetkanku.
“Sini kamu!”
Ayah menarik tubuh ibu yang tergeletak di lantai kamar mandi hingga berdiri.
“Kamu sudah lancang sekali ngomongnya.”
“Mas, tolong Mas, jangan siksa aku.”
“Diam!! Kali ini tak ada ampun untukmu.”
Lalu ayah memasukan kepala ibu ke dalam bak mandi. Dengan sesekali dia angkat dan masukkan kembali. Terus dan terus kejadian itu dilakukan berulang kali. Tak hanya puas dengan itu, ayah kemudian menyeret ibu ke dapur. Entah apa yang akan ayah lakukan. Dia mengobrak-abrik lemari dapur dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang dasi yang dia ikatkan di leher ibu. Sepertinya ayah mencari sesuatu di sana. Ibu berusaha menyelamatkan diri. Ibu mencoba membuka kepalan tangan ayah yang memegang dasi kuat-kuat. Tapi ibu tak kuasa membukanya. Badan ibu terlalu lemah , sama sekali tak ada kekuatan.
“Nah, ini dia yang aku cari.”
Dengan perasaan senang dan tertawa keras, di ambilnya sebilah pisau dari lemari paling atas sebelah pojok kanan.
“Kamu tau ini apa?”, Tanya ayah sambil mendekatkan pisau itu ke wajah ibu.
“Ini malaikatmu malam ini.”
Ayah tertawa seperti keraksukan setan.
“Ouhhh, oouuhh..” suara ibu hampir tak terdengar lagi.
Sayatan pertama mendarat di kaki ibu yang mulus. Darah mengalir sedikit demi sedikit dari sayatan itu. Kaki ibu pun terus menendang-nendang kesakitan. Sayatan kedua masih di kaki, tapi kaki bagian kiri. Dan itu terus ayah lakukan sampai beberapa kali sayatan. Raut wajah ibu terlihat seperti orang meminta pertolongan. Tapi aku, aku tak bisa bantu ibu selain menangis melihat perlakuan ayah yang kejam malam itu.
Tak lama kemudian, ayah melepaskan dasi yang sedari tadi mengikat ibu. Tetapi bukan untuk dilepas dari leher ibu. Ternyata ujung tali itu dia ikatkan di besi kaca jendela. Kali ini tangan ayah lebih leluasa untuk bergerak. Di ambilnya tali pengikat untuk mengikat tangan ibu. Sayatan demi sayatan mendarat di kedua tangan ibu. Sampai pada akhirnya sayatan itu tepat di urat nadi dan malaikat itu telah membawa ibu pergi.
Mengetahui istrinya tak bergerak lagi. Ayah mencoba membangunkan ibu dengan menamparkan tangannya pada kedua pipi ibu. Ternyata ibu tak menampakkan respon apa-apa. Saat itu ayah kalang kabut. Pikirannya tak karuan. Mondar-mandir ke sana ke mari. Dia gelisah.
Saat itu aku menangis dan menjerit keras.
Ayah mendengar tangisanku lalu mendekatiku dan mencoba membawaku pergi dari dapur.
“Kamu semestinya tak boleh menyaksikan ini.”
Suaranya gemetar.
Ayah terus membawaku berlari dan keluar dari rumah. Dua orang satpam penjaga kebetulan sedang melakokan patrol keliling kompleks. Mereka melihat aku dan ayah yang berlari keluar rumah. Kedua satpam itu lalu berlari mendekati kami. Ayah sontak gugup. Wajahnya ketakutan melihat kedua satpam itu.
“Celaka!”, kata ayah pelan.
“Apanya yang celaka Tuan?”, Tanya kedua satpam.
“Ohh tidak”, jawab ayah gugup.
“Boleh kami masuk?”, Tanya seorang satpam yang mengenakan topi biru bertuliskan Security.
“Iya, tentu.”
Saat kedua satpam itu masuk, terlihat ayah ketakutan. Dia berusaha melarikan diri tapi niatnya terhalang oleh kedua satpam itu.
“Tamatlah riwayatku malam ini”, desah ayah.
Kedua satpam itu menemukan jasad ibu yang sudah tidak berdaya dan berlumuran darah. Ibu telah tiada. Dia meninggal secara tidak wajar. Hanya karena pertengkaran itu akhirnya ibu harus meregang nyawa.
Malam itu menjadi ramai. Orang-orang berdatangan dari sana-sini. Baik kerabat atau para tetangga bergilliran masuk ke rumahku. Adikku akhirnya bangun juga. Dia menangis begitu bangun tidur. Salah seorang kerabatku membawanya keluar dan berusaha membuatnya tidur kembali.

Jasad ibu sudah di pendam. Bertaburan bunga segar di atasnya. Tak ada yang tak sedikit pun mengeluarkan air mata. Kepergian ibu begitu tragis dan menyakitkan. Sesaat jasad ibu di pendam, aku merasakan sakit yang tak tertahankan.
Semenjak ibu meninggal aku dan Prili di asuh tante dan pamanku. Aku di bawa  ke Jakarta dan tinggal di sana hingga sekarang. Setelah lima tahun aku tinggal di sini, aku tak berusaha mencari keberadaan ayah. Mungkin ayah sudah keluar dari balik jeruji besi. Entah dia memikirkan aku dan Prili atau tidak. Masa bodo. Aku tak akan pernah lupa kejadian yang membuat nyawa ibuku hilang.
Sabtu sore aku selalu duduk di taman kota bersama Prili. Dia selalu mengajakku bermain di sana. Aku yang sangat menyayanginya tak akan bisa menolak permintaan Prili.
“Adikku yang manis kau pasti rindu ibu, sama sepertiku. Aku rindu kehadirannya, pelukan penuh kasih sayangnya selalu membuatku senang dan nyaman untuk berlama-lama dipeluknya”, lamunku yang saat itu melihat ibu-ibu yang sedang bermain bersama anak-anaknya.
Tetapi sesosok lelaki yang tak asing bagiku membuatku terperanjat dari kursi taman. Aku melihat lelaki itu mirip dengan ayah. Dia berjalan menuju tempat dudukku. Sekali lagi aku lebih terperanjat saat lelaki itu tiba-tiba sudah ada di depanku. Benar dugaanku.
“Ayah ada di sini”, ucapku heran.
“Prima.. Kau masih mengenaliku?, Tanya ayah dengan senyum senang. Ayah senang aku masih mengenalinya. Padahal janggut dan rambut yang sebahu dan kumis yang tebal telah merubah wajah ayah yang dulu.
“Tidak. Anda siapa?”, pura-pura lupa dan balik bertanya.
“Ini ayahmu nak. Kau sama sekali tak mengenaliku?”
“Maaf. Aku tak punya ayah sepertimu. Anda salah orang.”
“Kakak, dia siapa?”
Prili yang sedaritadi duduk bersebelahan denganku bingung menyaksikan percakapan aku dan ayah.
“Dia bukan siapa-siapa. Sudahlah jangan memikirkannya.”
“Adik manis, namamu siapa?”, Tanya ayah sambil menjongkokkan tubuhnya.
“Prili.”
“Nama yang sangat manis, semanis orangnya.”
Ayah memuji Prili dan diraihnya tangan Prili.
Aku yang tak mau adikku tersentuh tangan jahanam itu langsung membuangnya ke bawah.
“Jangan coba-coba sentuh adikku”, ancamku.
“Ayo pulang!”

 “Kakak tanganku sakit.”
Aku pergi tergesa-gesa menggandeng tangan adikku kuat hingga Prili merengek kesakitan.
Ayah mencoba mengikutiku dan terus membuntutiku hingga saat aku dan Prili menyebrang jalan raya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaghhhh...”
Suara itu terdengar keras. Dan ketika aku menoleh kebelakang. Terlihat tubuh itu terpental ke tengah jalan.
“Ayah..”
Aku berlari mendekati kerumunan orang-orang yang seketika membanjiri jalan raya. Rupanya mobil truk gandengan pengangkut  bahan-bahan tekstil yang berjalan cepat itu menabrak ayah.
“Ayaaaaaaaaah..”­­­
Untuk kedua kalinya aku harus kehilangan orang yang aku sayangi. Tuhan, mengapa harus secepat ini perpisahan terjadi. Bahkan aku belum sempat membuat keduanya bahagia. Aku tahu ayah yang telah membunuh ibuku. Namun, aku tak punya dendam untuk mencoba melakukan hal bodoh demi menyalurkan hasrat benciku terhadap perlakuan ayah. Aku percaya pada-Mu Tuhan. Engkau yang lebih pantas membalas semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar